Gagasan Mangrove Farma Forest

Sebagai Model Solusi Untuk Menangani Permasalahan Illegal Logging

 

Hutan mangrove menyimpan banyak fungsi dan kekayaan yang belum tentu semua orang mengetahuinya. Mangrove merupakan nama dari kelompok tumbuhan yang hidup di daerah pasang surut dengan kondisi perairan payau 2-22 ppt. Mangrove terdiri dari dua kelompok, yaitu mangrove sejati (true mangrove) seperti Rhizophora mucronata, Avicennia alba, Sonneratia caseolaris, Bruguiera gymnorrhiza dan mangrove ikutan (associate mangrove) seperti Pandanus tectorius, Passiflora foetida, Pongamia pinnata, Ricinus communis. Mangrove mempunyai dua fungsi yang sangat penting, yaitu fungsi ekologi dan ekonomi. Fungsi ekologi sebagai daerah asuhan bagi biota laut (Nursery ground), tempat mencari makan bagi biota laut (Feeding ground), dan tempat untuk perkembangbiakan biota laut (Spawning ground).

Mangrove juga berfungsi dalam mencegah abrasi laut dan berfungsi dalam menyerap karbon (CO2) dari asap industri maupun kendaraan bermotor yang ada di udara. Fungsi ekonomi sekaligus menjadi kekayaan yang tersimpan di mangrove adalah sebagai bahan bakar, bahan pulp kertas, bahan mebel, bahan makanan, bahan minuman, dan bahan obat-obatan herbal. Seiring berjalannya waktu, luas hutan mangrove mengalami penurunan disebabkan oleh aktifitas masyarakat yang memanfaatkan keberadaan hutan mangrove, sehingga mengakibatkan kerusakan. Kondisi hutan yang mengalami alih fungsi yang mayoritas disebabkan oleh aktivitas manusia. Hal tersebut akan berpengaruh pada kondisi lingkungan biofisik kawasan hutan dan bahkan berpengaruh pada kondisi lingkungan sosial ekonomi dan sosial budaya masyarakat yang berada di sekitar hutan.

Hutan mangrove merupakan tipe ekosistem fragile yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan, padahal sifat ekosistem tersebut adalah open acces, sehingga meningkatnya eksploitasi sumber daya mangrove oleh masyarakat akan menurunkan kualitas dan kuantitasnya. Penurunan kondisi hutan mangrove dipengaruhi oleh pemahaman masyarakat terkait dengan keberadaan mangrove yang sangat minim, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka mengeksploitasi tumbuhan mangrove. Salah satu cara yang sering dilakukan untuk menanggulangi kerusakan yang terjadi di hutan mangrove yaitu melalui rehabilitasi tumbuhan yang hilang untuk dikembalikan ke dalam kondisi semula, namun kebanyakan konsep tersebut masih menyebabkan kerusakan pada tumbuhan mangrove. Disebabkan oleh konsep perawatan mangrove yang  kurang tepat dan tanpa diimbangi dengan modifikasi perawatan mangrove yang tetap menyeimbangkan fungsi ekologi dan ekonomi.

Gagasan dalam upaya perawatan hutan mangrove yang optimal sekaligus sebagai tindakan dalam menjaga mangrove dari kerusakan yaitu dengan cara membentuk mangrove farma forest. Model perawatan mangrove dengan farma forest bertujuan supaya masyarakat sekitar dapat merawat ekosistem mangrove dan tetap bisa memanfaatkan mangrove dari segi ekonomi sebagai bahan obat herbal. Keuntungan lain dari model farma forest memberikan nilai poitif bagi hasil perikanan nelayan, karena kondisi mangrove tetap lestari dan memberikan kesempatan bagi masyarakat sekitar sebagai petani mangrove dengan membudidayakan bibit mangrove untuk diproduksi sebagai bahan obat hebal.

Kesejahteraan masyarakat akan meningkat tanpa harus memanfaatkan mangrove dengan cara merusak. Penerapan pengelolaan mangrove dengan farma forest merupakan salah satu cara pendekatan kepada masyarakat dalam rangka menangani illegal logging, namun tetap memanfaatkan mangrove dengan memperhatikan aspek konservasi. Data potensi tumbuhan mangrove yang berfungsi sebagai bahan obat disajikan pada Tabel 1.

 

Tabel 1. Data Potensi Tumbuhan Mangrove Yang Berfungsi Sebagai Bahan Obat

No Spesies Fungsi obat
1 Nypa fruticans Obat analgetik.
2 Rhizophora mucronata Obat luka pada kulit yang terkena infeksi.
3 Sonneratia alba Sebagai hepatoprotektor.
4 Aegiceras corniculatum Sebagai anti koagulan.

(Sumber: Data sekunder (2016-2021))

 

Indonesia sebagai Negara yang memiliki kekayaan megabiodiversitas merupakan sumber bagi tumbuhan obat. Hutan mangrove menyimpan berbagai macam tumbuhan yang mempunyai potensi sebagai bahan obat herbal. Tumbuhan mangrove mempunyai berbagai macam fungsi khususnya fungsi dalam bidang farmakologi. Manfaat tumbuhan mangrove dalam bidang farmakologi diantaranya ekstrak batang Aegiceras corniculatum berfungsi sebagai antikoagulan atau anti pembekuan darah pada darah manusia. Ekstrak buah Sonneratia alba berfungsi sebagai hepatoprotektor yaitu mengobati kerusakan dari fungsi hati. Ekstrak daun Rhizophora mucronata berfungsi sebagai penyembuh luka pada kulit. Ekstrak akar Nypa fruticans mengandung senyawa aktif terdiri dari alkaloid, steroid, triterpenoid, flavonoid dan tannin yang berfungsi sebagai bahan obat, salah satunya berfungsi sebagai obat analgetik yaitu obat yang digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa sakit atau obat penghilang rasa nyeri.

Model farma forest di hutan mangrove diharapkan dapat memberikan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar untuk menjadi petani mangrove, sehingga bisa meminimalisir tindakan pemanfaatan kayu mangrove secara berlebihan sampai mengarah ke illegal logging. Model pengelolaan mangrove dengan farma forest diharapkan bias menjadi suatu langkah dalam memanfaatkan buah, daun, dan akar mangrove untuk digunakan sebagai bahan pembuatan obat herbal, namun tetap diimbangi dengan kegiatan penanaman kembali spesies tumbuhan yang sudah dimanfaatkan. Model pengelolaan mangrove secara farma forest, diharapkan fungsi ekonomi mangrove dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat dan fungsi ekologi mangrove tetap terjaga, dan yang lebih penting dapat meminimalisir tindakan illegal logging, bahkan alih fungsi lahan di hutan mangrove.

Model Farma forest secara tidak langsung diharapkan bisa mengubah sikap masyarakat setempat yang memanfaatkan tumbuahan mangrove sampai mengarah pada tindakan illegal logging menjadi masyarakat yang peduli terhadap kelestarian mangrove. Hal tersebut disebabkan potensi tumbuhan mangrove sebagai bahan obat herbal yang memberikan manfaat besar bagi perekonomian masyarakat sekitar. Ketika masyarakat mendapatkan manfaat besar dari keberadaan sumberdaya suatu kawasan, maka dengan sendirinya masyarakat sekitar akan berusaha melindungi dan memelihara kawasan sekitar, sehingga tercipta tindakan konservasi.

Selain itu soosialisasi model farma forest juga harus dilakukan secara terpadu oleh satu tim yang terdiri dari dinas setempat yang menaunginya, peneliti, kelompok masyarakat, serta instansi terkait yang dipandang perlu. Masyarakat yang terkait secara langsung dengan pembangunan dan pengamanan hutan mangrove harus diikutsertakan untuk berpartisipasi aktif dalam melestarikan hutan mangrove. Pola pendekatan secara formal maupun nonformal bertujuan untuk perluasan lapangan kerja di hutan mangrove secara berkelanjutan, peningkatan pendapatan masyarakat, pembinaan sumberdaya manusia khususnya para petani hutan mangrove, terbinanya hubungan yang harmonis antara stakeholder dengan masyarakat yang bermukim di sekitar hutan mangrove.

Sosialisasi tersebut harus dilakukan karena dalam pelestarian hutan mangrove sangat memerlukan partisipasi, kerjasama, dukungan dari dinas terkait, masyarakat dan stakeholder. Monitoring dan evaluasi mangrove farma forest juga harus dilaksanakan, yang meliputi aspek ekonomi dan ekologi. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan secara rutin dan terpadu oleh dinas setempat yang menaunginya, peneliti, kelompok masyarakat, serta instansi terkait yang dipandang perlu sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Tindakan monitoring dan evaluasi diharapkan dapat mengungkap permasalahan dan bisa menemukan solusi dalam pelaksanaan suatu model, seperti halnya dalam model mangrove farma forest.

 

Novia Citra Paringsih, S.Si.,M.Si.

Dosen Program Studi Ilmu Lingkungan

Universitas Muhammadiyah Madiun