Menjaga Keharmonisan Hubungan Manusia dengan Lingkungan Hidup

 

Lingkungan hidup sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada seluruh bangsa Indonesia merupakan rahmat yang tidak terhingga yang harus kita jaga kelestariannya untuk dapat menunjang kelangsungan hidup itu sendiri. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 1 (1) lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Dengan berbagai pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa lingkungan hidup adalah sebuah kesatuan yang meliputi berbagai makhluk hidup beserta seluruh komponen di sekitarnya. Komponen lingkungan ini meliputi komponen abiotik (A), biotik (B), dan sosial/kultur (C). Diagram hubungan A-B-C disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Diagram Hubungan A-B-C

 

Pembagian lingkungan hidup menjadi 3 (tiga) bagian besar, yaitu:

  1. Lingkungan fisik atau anorganik (A), yaitu lingkungan yang terdiri dari gaya kosmik dan fisiogeografis seperti tanah, udara, laut, radiasi, gaya tarik, ombak, dan sebagainya.
  2. Lingkungan biologi atau organik (B), yaitu segala sesuatu yang bersifat biotis berupa mikroorganisme, parasit, hewan, tumbuhan, lingkungan prenatal, dan proses-proses biologi seperti reproduksi, pertumbuhan, dan sebagainya.
  3. Lingkungan sosial (C) dibagi dalam empat bagian, yaitu:
  • Lingkungan fisio-sosial, yaitu meliputi kebudayaan materiil (alat), seperti peralatan senjata, mesin, gedung, dan lain-lain.
  • Lingkungan bio-sosial, yaitu manusia dan interaksinya terhadap sesamanya dan tumbuhan beserta hewan domestik dan semua bahan yang digunakan manusia yang berasal dari sumber organik.
  • Lingkungan psiko-sosial, yaitu yang berhubungan dengan tabiat batin manusia seperti sikap, pandangan, keinginan, dan keyakinan. Hal ini terlihat melalui kebiasaan, agama, ideologi, bahasa, dan lain-lain.
  • Lingkungan komposit, yaitu lingkungan yang diatur secara institusional berupa lembaga-lembaga masyarakat, baik yang terdapat di daerah kota atau desa.

 

Manusia dan Lingkungan

Manusia merupakan bagian dalam sistem lingkungan. Peradaban manusia berkembang berhubungan dengan sistem lingkungan. Pandangan manusia terhadap lingkungan:

  1. Pendekatan antroposentrik

Memandang manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Manusia dan kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem dan dalam kebijakan yang diambil dalam kaitan dengan alam, baik secara langsung atau tidak langung. Nilai tertinggi adalah manusia dan kepentingannya. Segala sesuatu yang lain di alam semesta ini hanya akan mendapat nilai dan perhatian sejauh menunjang dan demi kepentingan manusia. Oleh karenanya alam pun hanya dilihat sebagai obyek, alat dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan dan kepentingan manusia. Alam hanya alat bagi pencapaian tujuan manusia. Alam tidak mempunyai nilai pada dirinya sendiri.

  1. Pendekatan altruistik

Sebuah pendekatan yang lebih bijak karena menganggap semua mempunyai hak hidup yang sama (pemikiran secara holistik) yang sebenarnya lingkungan hidup pada akhirnya juga untuk kepentingan manusia, sehingga harus dikelola secara bijak.

 

Manusia Sebagai Subyek dan Obyek Lingkungan

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya dibanding makhluk-makhluk hidup lainnya karena manusia diciptakan dengan tujuan menjadi khalifah dan secara kodrat diberi akal budi yg memungkinkan adanya kebudayaan. Manusia sudah mempunyai dan diberi akal pikiran sejak lahir yang nantinya akan hidup dan berkembang di lingkungan, baik secara alamiah maupun sosial. Dengan akal pikiranlah manusia akan menjalani kehidupan melalui proses belajar.

Manusia disamping berakal budi juga mempunyai kebutuhan, dorongan, dan kemauan yang pemenuhan serta perwujudannya menimbulkan bermacam-macam budaya. Variasi budaya akan berkembang apabila manusia berinteraksi dengan lingkungan. Tanpa interaksi dengan lingkungan, maka perkembangannya akan terhambat, sehingga dapat disimpulkan bahwa peran lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan manusia, terutama lingkungan sosial.

Dalam pengkajian masalah kemanusiaan, manusia menempati posisi ganda yang artinya manusia tidak hanya sebagai subyek (pelaku), tetapi juga sebagai obyek (sasaran). Tema pengkajian masalah kemanusiaan diarahkan pada:

  1. Diri manusia sendiri dan nilai-nilai kemanusiaan
  2. Hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan Tuhan yang disajikan pada Gambar 2.

 

Gambar 2. Hubungan Manusia dengan Tuhan, Manusia, dan Alam

 

Manusia menjadi subyek dan sekaligus obyek lingkungan karena manusia hidup dan berkembang di lingkungan masing-masing, mengolah sumber-sumber alam dan sosial yang ada di lingkungan tersebut serta memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan hidupnya.

 

Permasalahan Lingkungan Hidup

Berbagai permasalahan lingkungan hidup marak terjadi saat ini, seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, erosi, pemanasan global, kebakaran hutan, lahan kritis, serta pencemaran (air, udara, tanah) yang mayoritas diakibatkan oleh perbuatan manusia (antropogenik). Masalah lingkungan hidup timbul pada dasarnya karenaberbagai faktor, yaitu:

  1. Dinamika penduduk
  2. Pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya yang kurang bijaksana
  3. Kurang terkendalinya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan tehnologi
  4. Dampak negatif yang muncul dari kemajuan ekonomi
  5. Benturan tata ruang

 

Pengelolaan Lingkungan Hidup

  • Pengelolaan lingkungan hidup merupakan usaha untuk memelihara dan/atau memeperbaiki kualitas lingkungan agar kebutuhan dasar kita terpenuhi dengan sebaik-baiknya. Beberapa hal yang terkait dengan kegiatan ini:
  1. Domestikasi, yaitu pemeliharaan tumbuhan dan hewan liar. Hal ini dimulai sangat awal pada kebudayaan manusia.
  2. Citra lingkungan, kearifan ekologi atau gambaran tentang lingkungan hidup. Ini dapat didasarkan pada ilmu pengetahuan dan teknologi.
  3. Cagar alam, adalah sebidang lahan yang dijaga untuk melindungi flora dan fauna yang ada di dalamnya.
  4. Cagar budaya, pengertiannya serupa dengan cagar alam, yang dilindungi bukan suatu daerah yang bersifat alamiah, melainkan hasil budaya manusia. Misalnya candi, kraton, dan bangunan kuno.
  5. Cagar biosfir, dapat meliputi daerah yang dibudidayakan manusia, misalnya untuk pertanian secara tradisional dan pemukiman.
  6. Taman nasional, pada prinsipnya sama dengan cagar alam, namun di dalamnya dapat dilakukan kegiatan pembangunan yang tidak bertentangan dengan tujuan pencagar alaman. Misalnya pariwisata, pendidikan, penelitian.

 

 

Alfian Chrisna Aji, S.Pd., M.Si.

Kepala Program Studi Ilmu Lingkungan

Universitas Muhammadiyah Madiun