Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development)

Untuk Kelestarian Lingkungan dan Kesejahteraan Masyarakat

 

Manusia (Homo sapiens) sejak dahulu berperan sebagai hunter atau pemburu. Melalui perkembangan zaman, terbentuklah revolusi pertanian pada tahun 10.000-8.000 SM. Zaman semakin berkembang, pada abad 17 M terjadilah revolusi industri. Revolusi Industri terjadi pada periode antara tahun 1750-1850 dimana terjadinya perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia.

Revolusi industri menyebabkan terjadinya perkembangan besar-besaran yang terjadi pada semua aspek kehidupan manusia. Singkatnya, revolusi industri adalah masa dimana pekerjaan manusia di berbagai bidang mulai digantikan oleh mesin.Revolusi Industri dimulai dari Britania Raya kemudian menyebar ke seluruh Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang, dan menyebar ke seluruh dunia. Revolusi Industri menandai terjadinya titik balik besar dalam sejarah dunia, hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh Revolusi Industri, khususnya dalam hal peningkatan pertumbuhan penduduk dan pendapatan rata-rata yang berkelanjutan dan belum pernah terjadi sebelumnya. Selama dua abad setelah revolusi industri, rata-rata pendapatan perkapita negara-negara di dunia meningkat lebih dari enam kali lipat.

Berkembangnya zaman dan bertambah pesatnya jumlah populasi manusia mengakibatkan peningkatan kebutuhan, teknologi berkembang, dan kesejahteraan meningkat menyebabkan peningkatan eksploitasi sumber daya alam dan kerusakan lingkungan hidup, sehingga menimbulkan pencemaran (air, tanah, udara, dan suara) serta bencana ekologi lainnya. Pada perkembangannya memunculkan 2 (dua) gerakan ekologi, yaitu

  1. Gerakan Deep Ecology, yaitu gerakan penyelamatan lingkungan agar dapat berkelanjutan.
  2. Gerakan Shallow Ecology, yaitu gerakan yang mengarah pada meningkatkan eksploitasi sumber daya alam dan lingkungan untuk kesejahteraan manusia.

Daya Dukung Lingkungan

Daya dukung lingkungan (DDL) merupakan jumlah maksimum organisme yang kehidupannya dapat didukung oleh suatu lingkungan (lokal, regional, global) dalam suatu kurun waktu tertentu. Upaya untuk dapat bertahan hidup di bumi, keberadaan manusia tidak boleh melampaui batas daya dukung lingkungannya. Variasi daya dukung dipengaruhi oleh:

  1. Lokasi
  2. Waktu
  3. Jenis teknologi yang digunakan dalam memanfaatkan sumber daya alam dan dlm menanggapi masalah lingkungan akibat pertumbuhan populasi dan pemanfaatan sumber daya alam.

Gambar 1. Pengelompokkan Sumber Daya Alam

 

 

Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan

Pembangunan untuk memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya.

  • Sekarang membangun = besok membangun
  • Besok membangun = lusa membangun
  • Lusa membangun = terus bangun
  • Sekarang membangun = anak-cucu juga bangun

Gambar 2. Keseimbangan Dalam Pembangunan

 

Program Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development)

Pembangunan berkelanjutan atau sustainable development adalah proses pembangunan yang memaksimalkan sumber daya alam yang tersedia dan diolah dengan manusia dengan pembangunan. Pada umumnya, pembangunan berkelanjutan dianggap sebagai pertanda negara yang sedang bergerak maju, baik secara struktur sosial, ekonomi, maupun politik. Selain itu, pembangunan berkelanjutan juga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mempermudah pemenuhan kebutuhannya tanpa menghambat perkembangan generasi selanjutnya untuk melakukan hal yang sama.

25 September 2015 bertempat di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pemimpin dunia secara resmi mengesahkan Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) sebagai kesepakatan pembangunan global. Kurang lebih 193 kepala negara hadir, termasuk Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla turut mengesahkan Agenda SDGs. Dengan mengusung tema “Mengubah Dunia Kita: Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan”, SDGs yang berisi 17 Tujuan dan 169 Target merupakan rencana aksi global untuk 15 tahun ke depan (berlaku sejak 2016 hingga 2030), guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. Program SDGs berlaku bagi seluruh negara (universal), sehingga seluruh negara tanpa kecuali negara maju memiliki kewajiban moral untuk mencapai Tujuan dan Target SDGs.

Pembangunan berkelanjutan harus diletakkan sebagai kebutuhan dan aspirasi manusia kini dan masa depan. Karena itu hak-hak asasi manusia seperti hak-hak ekonomi, sosial, budaya, dan hak atas pembangunan dapat membantu memperjelas arah dan orientasi perumusan konsep pembangunan yang berkelanjutan. Secara lebih kongkrit tidak bisa disangkal bahwa hak manusia atas lingkungan hidup yang sehat dan baik menjadi kebutuhan mendesak sebagai bagian dari hak asasi manusia. Hak atas pembangunan tidak lepas dari ketentuan bahwa proses pembangunan haruslah memajukan martabat manusia, dan tujuan pembangunan adalah demi kemajuan yang terus menerus secara berkelanjutan untuk kesejahteraan manusia secara adil merata.

Pembangunan berkelanjutan memiliki beberapa konsep, yaitu:

  1. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan prinsip tidak meninggalkan satu orangpun (leave no one behind)
  2. Mengelola sumber daya alam dengan baik sehingga dapat dipergunakan pada masa yang akan datang.
  3. Memanfaatkan sumber daya alam sebaik mungkin sehingga tidak ada pemborosan dan tidak merusak lingkungan
  4. Pembangunan yang dilakukan harus dapat memperbanyak sumber daya alam yang dapat diperbaharui
  5. Mempertahankan kualitas kehidupan manusia pada masa kini dan pada masa depan

Pembangunan berkelanjutan juga berpegang teguh kepada beberapa prinsip tertentu, tertuang dalam prinsip utama dari pembangunan berkelanjutan, diantaranya:

1.   Tidak Meninggalkan Satu Orangpun (Leave No One Behind)

Tidak Meninggalkan Satu Orangpun merupakan prinsip utama SDGs. Dengan prinsip tersebut, setidaknya SDGs harus bisa menjawab dua hal, yaitu keadilan prosedural untuk melihat sejauh mana seluruh pihak terutama yang selama ini tertinggal dapat terlibat dalam keseluruhan proses pembangunan dan keadilan subtansial untuk melihat sejauh mana kebijakan dan program pembangunan dapat atau mampu menjawab persoalan-persoalan warga terutama kelompok tertinggal.

2.   Ekologi

Ekologi harus dilestarikan selama melaksanakan pembangunan berkelanjutan. Agar pelestarian lingkungan dapat dilakukan dengan maksimal, maka kita dapat melakukan hal-hal seperti menggunakan lahan campuran, memastikan tetap ada ruang terbuka hijau, dan membuat sistem yang dapat membuat transportasi dan bangunan terintegrasi dengan baik.

3.   Ekonomi

Prinsip pembangunan berkelanjutan dari sisi ekonomi memberikan fokus lebih pada peningkatan keterampilan pekerja yang meningkatkan daya saing. Meningkatnya daya saing dalam mendapatkan pekerjaan layak dan pendapatan yang lebih baik menimbulkan peningkatan kinerja infrastruktur dasar (properti, sistem air, dan sejenisnya) serta pada infrastruktur informasi.

4.   Energi

Pemakaian energi harus dilakukan secara hemat untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan. Terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan untuk menghemat energi, yaitu:

  1. Menggunakan energi yang dapat diperbaharui secara optimal
  2. Memprioritaskan pembangunan transportasi massal.
  3. Menghemat penggunaan sumber-sumber energi yang tersedia.

5.   Equity (Pemerataan)

Pemerataan atau equity merupakan target utama dari pembangunan berkelanjutan karena diharapkan dapat mengecilkan kesenjangan ekonomi dan sosial di masyarakat. Selain itu, dengan berpegang pada prinsip pemerataan, semua anggota masyarakat mendapatkan kesempatan yang seimbang.

6.   Engagement (Peran Serta)

Pembangunan berkelanjutan harus dilakukan dengan partisipasi masyarakat luas dan pemerintah harus memfasilitasi hal ini. Salah satu hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk membantu masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan berkelanjutan adalah dengan menampung aspirasi publik. Masyarakat harus berperan serta dalam proses pembangunan berkelanjutan. Pemerintah juga turut berperan sebagai fasilitator pemberdayaan masyarakat yang mampu menampung aspirasi dari masyarakat.

 

Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs)

Tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini, yang telah dijalankan sejak tahun 2015 yang merupakan program lanjutan dari Millenium Development Goals (MDGs) yang dilaksanakan pada tahun 2000-2015. Berbeda dari pendahulunya, yaitu MDGs, SDGs dirancang dengan melibatkan seluruh aktor pembangunan, baik itu Pemerintah, Civil Society Organization (CSO), sektor swasta, akademisi, dan lain sebagainya. Kurang lebih 8,5 juta suara warga di seluruh dunia juga berkontribusi terhadap Tujuan dan Target SDGs. Berikut merupakan 17 tujuan pembangunan berkelanjutan dari program SDGs yang akan berlanjut sampai tahun 2030.

Gambar 3. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)

 

  1. Menghapus kemiskinan: mengentaskan segala bentuk kemiskinan di seluruh tempat.
  2. Mengakhiri kelaparan: mencapai ketahanan pangan dan perbaikan nutrisi, serta menggalakkan pertanian yang berkelanjutan.
  3. Kesehatan yang baik dan kesejahteraan: menggalakkan hidup sehat dan mendukung kesejahteraan untuk semua usia.
  4. Pendidikan bermutu: memastikan pendidikan berkualitas yang layak dan inklusif serta mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang.
  5. Kesetaraan gender: mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan.
  6. Akses air bersih dan sanitasi: menjamin akses air dan sanitasi untuk semua.
  7. Energi bersih dan terjangkau: memastikan akses energi yang terjangkau, bisa diandalkan, berkelanjutan, dan modern.
  8. Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi: pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan inklusif, serta lapangan pekerjaan yang layak untuk semua.
  9. Infrastruktur, industri, dan inovasi: membangun infrastruktur kuat, mempromosikan industrialisasi berkelanjutan, dan mendorong inovasi.
  10. Mengurangi ketimpangan: mengurangi kesenjangan di dalam dan di antara negara-negara.
  11. Kota dan komunitas yang berkelanjutan: membuat perkotaan menjadi inklusif, aman, kuat, dan berkelanjutan.
  12. Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab: memastikan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan.
  13. Penanganan perubahan iklim: mengambil langkah penting untuk melawan perubahan iklim dan dampaknya.
  14. Menjaga ekosistem laut: perlindungan dan penggunaan samudra, laut, dan sumber daya kelautan secara berkelanjutan.
  15. Menjaga ekosistem darat: mengelola hutan secara berkelanjutan, melawan perubahan lahan menjadi gurun, menghentikan kepunahan keragaman hayati
  16. Perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang kuat: mendorong masyarakat adil, damai, dna inklusif.
  17. Kemitraan untuk mencapai tujuan: menghidupkan kembali kemitraan global demi pembangunan berkelanjutan.

 

 

Alfian Chrisna Aji, S.Pd., M.Si.

Kepala Program Studi Ilmu Lingkungan

Universitas Muhammadiyah Madiun