Krisis Iklim Global Semakin Mengancam Kehidupan

 

Krisis iklim semakin cepat pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kita tidak siap sepenuhnya untuk itu. Sementara krisis memiliki banyak faktor yang berperan dalam memperburuknya, ada beberapa hal yang memerlukan perhatian lebih dari yang lain. Berikut adalah beberapa masalah lingkungan akibat krisis iklim terbesar dalam hidup kita.

  1. Pemanasan Global

Kadar CO2 ppm (bagian per juta) berada di angka 410 dan kenaikan suhu global mencapai 0,89 oC. Peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) menyebabkan suhu naik yang mengakibatkan peristiwa bencana di seluruh dunia. Tahun ini, Australia mengalami salah satu musim kebakaran hutan paling dahsyat yang pernah tercatat, belalang berkerumun di beberapa bagian Afrika, Timur Tengah, dan Asia menghancurkan tanaman. Ilmuwan memperingatkan bahwa Bumi telah melewati serangkaian titik kritis yang memiliki konsekuensi bencana ekologi. Limbah mikroplastik ditemukan di es Antartika dan gelombang panas di Antartika ditandai suhu naik di atas 20 oC untuk pertama kalinya, peringatan tentang pencairan permafrost di wilayah Arktik, pencairan lapisan es Greenland pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, berita tentang percepatan kepunahan massal, peningkatan deforestasi di hutan hujan Amazon, serta peringatan polusi udara yang memperburuk penyebaran COVID-19.

China mengalami banjir terburuknya dalam beberapa dekade, tingkat metana (CH4) naik ke rekor tertinggi, taman nasional di AS yang mencatat suhu tertinggi, ukuran populasi satwa liar telah mengalami penurunan rata-rata 68 % sejak 1970 dan kebakaran hutan yang memecahkan rekor di California yang telah menghalangi matahari dan ini hanyalah sebagian kecil dari peristiwa tersebut. Krisis iklim menyebabkan badai tropis dan peristiwa cuaca lainnya seperti angin topan, gelombang panas, dan banjir menjadi lebih intens serta sering terjadi daripada yang terlihat sebelumnya. Namun, sebuah penelitian menunjukkan jika semua emisi gas rumah kaca (GRK) dapat dihentikan pada tahun 2020, pemanasan global diperkirakan berhenti sekitar tahun 2033. Sangat penting bagi kita untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).

  1. Mencairnya Tutupan Es

Krisis iklim menghangatkan Arktik dua kali lebih cepat dari tempat lain di belahan Bumi. Permukaan air laut naik rata-rata 3,2 mm per tahun secara global dan diperkirakan akan naik 0,2 m hingga 2 m pada tahun 2100. Di Kutub Utara, Lapisan Es Greenland menimbulkan risiko terbesar bagi permukaan laut karena pencairan es darat adalah penyebab utama penyebab naiknya permukaan air laut. Masalah lingkungan ini bisa dibilang terbesar ini menjadi semakin memprihatinkan, mengingat musim panas pada tahun lalu memicu hilangnya 60 miliar ton es Greenland yang berakibat cukup untuk menaikkan permukaan laut global sebesar 2,2 mm hanya dalam dua bulan.

Menurut data satelit, lapisan es Greenland kehilangan rekor jumlah es pada tahun 2019, rata-rata satu juta ton per menit sepanjang tahun, salah satu masalah lingkungan terbesar yang memiliki efek cascading. Jika seluruh lapisan es Greenland mencair, diperkirakan permukaan laut akan naik enam meter. Sementara itu, benua Antartika menyumbang sekitar 1 milimeter per tahun terhadap kenaikan permukaan laut yang merupakan sepertiga dari kenaikan global tahunan. Menurut Canadian Ice Service, lapisan es utuh terakhir Kanada di Arktik baru-baru ini runtuh setelah kehilangan sekitar 80 km persegi atau sekitar 40 % dari luasnya selama periode dua hari pada akhir Juli. Kenaikan permukaan laut akan berdampak buruk bagi mereka yang tinggal di wilayah pesisir. Menurut kelompok Penelitian dan Advokasi Pusat Iklim, kenaikan permukaan laut dapat membanjiri wilayah pesisir yang sekarang menjadi rumah bagi 340 juta hingga 480 juta orang dan memaksa mereka untuk bermigrasi ke daerah yang lebih aman.

  1. Penurunan Keanekaragaman Hayati

Selama 50 tahun terakhir telah terlihat pertumbuhan pesat konsumsi manusia, populasi, perdagangan global, dan urbanisasi yang mengakibatkan umat manusia menggunakan lebih banyak sumber daya alam non renewable daripada sumber daya alam renewable. Laporan WWF menemukan bahwa jumlah populasi mamalia, ikan, burung, reptil, dan amfibi telah mengalami penurunan rata-rata sebesar 68 % kisaran tahun 1970 sampai 2016. Laporan tersebut mengaitkan penurunan keanekaragaman hayati ini dengan berbagai faktor, terutama alih fungsi lahan, khususnya konversi habitat seperti hutan, padang rumput dan bakau menjadi sistem pertanian. Hewan seperti trenggiling, hiu, dan kuda laut sangat terpengaruh oleh perdagangan ilegal satwa liar sebagai salah satu dampak alih fungsi lahan.

Kepunahan massal satwa liar di Bumi semakin cepat, lebih dari 500 spesies hewan darat berada diambang kepunahan dan kemungkinan besar akan hilang dalam waktu 20 tahun mendatang dimana jumlah yang sama hilang selama satu abad terakhir. Para ilmuwan mengatakan bahwa tanpa perusakan alam oleh manusia (antropogenik), tingkat kehilangan ini akan memakan waktu ribuan tahun.

  1. Penggundulan hutan

Setiap menit, hutan seluas 20 lapangan sepak bola ditebang. Pada tahun 2030, diperkirakan Bumi hanya memiliki 10 % hutannya. Jika deforestasi tidak dihentikan, semuanya bisa hilang dalam waktu kurang dari 100 tahun. Lahan pertanian adalah penyebab utama deforestasi. Lahan dibuka untuk memelihara ternak atau menanam tanaman lain yang dijual, seperti tebu dan kelapa sawit. Selain untuk penyerapan karbon, hutan membantu mencegah erosi tanah karena akar pohon mengikat tanah dan mencegahnya hanyut serta mencegah tanah longsor. Tiga negara yang mengalami tingkat deforestasi tertinggi adalah Brasil, Republik Demokratik Kongo, dan Indonesia.

  1. Kerawanan Pangan dan Air

Meningkatnya suhu bumi dan praktik pertanian yang tidak berkelanjutan meningkatkan ancaman kerawanan air dan pangan. Secara global, lebih dari 68 miliar ton lapisan tanah atas terkikis setiap tahun dengan kecepatan 100 kali lebih cepat daripada yang dapat diperbaharui secara alami (renewable). Tanah dipenuhi dengan pestisida dan pupuk kimia, sehingga tanah berakhir di saluran air yang mencemari air minum dan kawasan lindung di hilir. Selain itu, tanah yang terbuka lebih rentan terhadap erosi angin dan air karena kurangnya sistem akar dan miselium yang menyatukannya. Kontributor utama erosi tanah adalah pengolahan tanah yang berlebihan, meskipun meningkatkan produktivitas dalam jangka pendek dengan mencampurkan nutrisi permukaan (misalnya pupuk), pengolahan tanah secara fisik dapat merusak struktur tanah, dan dalam jangka panjang menyebabkan pemadatan tanah, kehilangan kesuburan, dan pembentukan kerak permukaan yang memperburuk erosi tanah lapisan atas.

Dengan populasi global yang diperkirakan akan mencapai 9 miliar orang pada pertengahan abad ini, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memproyeksikan bahwa permintaan pangan global meningkat hingga 70 % pada tahun 2050. Di seluruh dunia, lebih dari 820 juta orang terancam mengalami kekurangan pangan. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan “Kecuali tindakan segera diambil, semakin jelas bahwa ada darurat keamanan pangan global di masa mendatang dapat berdampak jangka panjang pada ratusan juta orang dewasa dan anak-anak”. Antonio Gutteres mendesak negara-negara untuk memikirkan kembali sistem pertanian mereka dan mendorong praktik pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dalam hal keamanan air, hanya 3 % dari air dunia adalah air tawar, dan dua pertiganya tersimpan di gletser beku (tidak tersedia untuk kita gunakan). Akibatnya, diperkirakan sekitar 1,1 miliar orang di seluruh dunia kekurangan akses ke air.

  1. Kegagalan Pasar

Nicholas Stern, seorang ekonom senior dunia menyatakan bahwa krisis iklim adalah akibat dari berbagai kegagalan pasar. Ekonom dan pemerhati lingkungan telah mendesak pembuat kebijakan untuk menaikkan harga kegiatan yang mengeluarkan gas rumah kaca (GRK) yang kekurangannya merupakan kegagalan pasar terbesar, misalnya melalui pajak karbon yang akan merangsang inovasi dalam teknologi karbon. Upaya untuk mengurangi emisi GRK dengan cukup cepat dan efektif, Pemerintah tidak hanya harus secara besar-besaran meningkatkan pendanaan untuk inovasi hijau (green inovation) guna menurunkan biaya sumber energi rendah karbon, tetapi perlu mengadopsi serangkaian kebijakan lain untuk mengatasi setiap kegagalan pasar lainnya.

Pajak karbon nasional saat ini diterapkan di 25 negara di seluruh dunia, termasuk berbagai negara di Uni Eropa, Kanada, Singapura, Jepang, Ukraina, dan Argentina. Namun, menurut laporan Penggunaan Energi Pajak dari OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) tahun 2019, struktur pajak saat ini tidak cukup selaras dengan profil polusi sumber energi. Misalnya, OECD menyarankan bahwa pajak karbon tidak cukup tegas untuk produksi batu bara, meskipun telah terbukti efektif untuk industri listrik. Pajak karbon telah diterapkan secara efektif di Swedia dengan pajak karbon sebesar USD $127 per ton dan berhasil mengurangi emisi sebesar 25 % sejak tahun 1995, sementara ekonominya telah berkembang sebesar 75 % dalam periode waktu yang sama.

 

 

Alfian Chrisna Aji, S.Pd., M.Si.

Kepala Program Studi Ilmu Lingkungan

Universitas Muhammadiyah Madiun